Ada beberapa pertanyaan yang sempat mampir ke hp saya tentang penggunaan scale dan mode. Pertanyaan seperti "scale apa yang dipakai oleh G3?","apakah ada percampuran scale?" dst.
Mode sendiri sebenarnya adalah scale juga. Mode sendiri bila diruntut dari sejarahnya adalah pembentuk dari scale-scale yang kita kenal sekarang ini, mode masih dipakai hingga sekarang karena mode lebih menentukan sifat/karakter musik daripada scale.
Pada musik-musik etnis seperti gamelan(karena saya etnis jawa) sebenarnya dikenal mode juga, meski istilahnya lain. Ada karakter-karakter gending tertentu yang dipakai untuk mengiringi wayang misalnya. Jadi adegan perang, adegan duka, awal cerita/akhir dst, diiringi dengan musik tertentu.
Ini bahasan yang rumit sebenarnya. Kebanyakan musisi(termasuk saya) biasanya bingung menentukan apakah memakai scale atau mode.
Hal lain yang terjadi adalah, kadang-kadang musik yang ceria juga tidak selalu dimainkan dengan nada-nada mayor, dan musik yang sedih juga tidak selalu dimainkan dengan nada-nada minor.
Tapi, setidaknya menurut saya, hal yang diterima pendengar sebenarnya adalah musik yang menurut mereka(karena menyangkut selera) enak didengar. Tidak peduli mau pake scale atau mode apapun asal memenuhi selera ya itulah yang disukai.
Jumat, Februari 27, 2009
Senin, Februari 02, 2009
Solo Gitar (Guitar Solo) Jimmy Page - Stairway to Heaven dimainkan budisapt
Bagian solo guitar lagu ini saya pasang di blog ini karena tak pikir banyak contoh teknik yang ada pada solo guitar ini. Diantaranya: contoh tangga nada(scale) Am pentatonic, string bending, unison bending, chord progressions(F-G-Am), flat 6, dominant dst. Bagian solo guitar lagunya Led Zeppelin ini menempati peringkat pertama pada 100 greatest guitar solo all the time(referensi: http://guitar.about.com/library/bl100greatest.htm) menurut majalah Guitar World. Banyak dipelajari sebagai contoh pelajaran gitar di seluruh dunia. Ada beberapa versi pada solo guitar ini, karena Jimmy Page sendiri memainkannya dalam beberapa versi, yang saya mainkan disini adalah yang versi recorded resmi, bukan yang versi live.
Soal kualitas gambar yang pas-pasan harap dimaklumi karena memang webcam saya yang kurang representatif. Tapi dengan peralatan seadanya sudah cukup saya banggakan, karena hasilnya menurut saya sudah lumayan bagus. Saya masukkan backing track band yang lengkap, sehingga ada panduan ketukan drum dan iringan band yang cukup, tidak terkesan “sepi”(cuman gitar doank)
Adapun review secara teknis permainan(menurut saya sendiri): masih ada bagian sekitar 2 triplets(triplet: rangkaian 3 not) yang terlewat saya mainkan(meski hanya perulangan sehingga ga begitu terdengar mencolok), dan juga pada bagian unison bend di akhir lagu(outro riff) karena kemarin saya kurang cepat memainkannya. Tapi karena keburu kepengen di upload di blog, ya sudah tak biarkan saja, he he he.Lagian, Jimmy Page paling juga maklum, he he he.
Silakan di lihat dan direview, bagi teman-teman penikmat musik yang ga bisa nggitar ya dilihat dan didengar saja, nikmati musiknya.
Video ini bisa dilihat juga di youtube dengan address: http://www.youtube.com/watch?v=bzc67pIbXW8
Selasa, Januari 27, 2009
Beberapa teknik gitar Arpeggio Yngwie Malmsteen dan Joe Satriani – Teknik Tingkat Lanjut
Bicara teknik Arpeggio di rock neo klasik, tentu tidak terlepas dari masternya yaitu Yngwie Malmsteen. Pada dasarnya Yngwie banyak memakai arpeggio pada kebanyakan lagu-lagunya. Beberapa diantaranya adalah:
1. One string Arpeggio: sebenarnya disini adalah penerapan dari One-string scale, yaitu penggunaan satu senar untuk memainkan satu pola scale/tangga nada.
Contoh: Progresi(bentukan) F Mayor, acuan: Joe Satriani

2. Two Strings Arpeggio: penggunaan dua senar untuk memainkan Arpeggio
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie
3. Three Strings Arpeggio: penggunaan tiga senar untuk memainkan Arpeggio
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie

4. Five Strings Arpeggio: penggunaan lima senar untuk memainkan Arpeggio
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie

Sebenarnya bukan Cuma Yngwie atau Joe Satriani saja yang memainkan teknik teknik itu, banyak gitaris lain yang memainkannya.
Adapun untuk jalur not-nya silakan dicari sendiri sebagai latihan, he he he…Gud Luck
Daftar Pustaka/Notes/Additional Reference:
Malmsteen, Yngwie: Guitar Instructional, Video, REH Publications 1992
Licks, Arpeggios, and Classical Phrases
Satriani, Joe: Guitar Secret, 1993, Cherry Lane Music Company
1. One string Arpeggio: sebenarnya disini adalah penerapan dari One-string scale, yaitu penggunaan satu senar untuk memainkan satu pola scale/tangga nada.
Contoh: Progresi(bentukan) F Mayor, acuan: Joe Satriani
2. Two Strings Arpeggio: penggunaan dua senar untuk memainkan Arpeggio
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie
4. Five Strings Arpeggio: penggunaan lima senar untuk memainkan Arpeggio
Contoh: Progresi(bentukan) A Minor, acuan: Yngwie
Sebenarnya bukan Cuma Yngwie atau Joe Satriani saja yang memainkan teknik teknik itu, banyak gitaris lain yang memainkannya.
Adapun untuk jalur not-nya silakan dicari sendiri sebagai latihan, he he he…Gud Luck
Daftar Pustaka/Notes/Additional Reference:
Malmsteen, Yngwie: Guitar Instructional, Video, REH Publications 1992
Licks, Arpeggios, and Classical Phrases
Satriani, Joe: Guitar Secret, 1993, Cherry Lane Music Company
Jumat, Januari 23, 2009
Menentukan tempo/jumlah ketukan (beat per minute) suatu lagu
Jika anda seorang DJ(Disk Jockey), Musisi Profesional(drummer pasti, gitaris, tabber dst), Pencipta Lagu, Komposer dst. Tentu menentukan tempo suatu lagu bukanlah perkara mudah, kalau lagu itu karangan kita sendiri ya mungkin langsung ketemu, karena kita yang menentukan. Tapi lain kalau kita harus mentranskrip lagu karangan orang lain, dengan modal pendengaran saja, bukan persoalan mudah untuk menentukan masalah tempo, apalagi kalo dikejar deadline segala, harus cepat.
Untuk mengukur tempo lagu yang dinyatakan dalam satuan beat per minute (bpm), saat ini telah ada beberapa software yang bisa kita jadikan alat bantu. Diantaranya adalah BPM Analyser, BPM Detector dst. Sebagian ada yang versi proprietary(dijual resmi) dan ada pula yang benar-benar gratis (freeware). Bagi saya, yang pecinta open source dan suka barang gratis, saya gunakan BPM Detector dari PistonSoft(http://www.pistonsoft.com). Meski software ini masih berjalan diatas sistem operasi Windows, tapi gratis :).
BPM Detector mempunyai kinerja yang cukup handal. Untuk merender ribuan lagu di hard disk saya, hanya perlu beberapa menit saja. Satu folder yang berisi 416 lagu hanya dirender selama 4 menit, bayangkan jika anda sendiri, tanpa alat bantu, makan waktu berapa lama untuk menentukan tempo lagu sebanyak itu? :) capek deh… he he he
BPM Detector bisa memainkan langsung dan juga bisa memisah(split), menggabungkan(join), merekam(record), bahkan juga bisa mengkonversi sebuah file MP3. Sayangnya perlu software-sofware tambahan yang dijual oleh pistonsoft secara terpisah(dooohhhh… beli lagi :( )
Kekurangannya untuk beberapa lagu masih belum bisa dihitung dengan tepat, sehingga hasilnya diberi nilai 0 (nol). Saya kurang mengetahui secara pasti sebabnya kenapa bisa seperti itu. Apakah terjadi pembagian nol(devide by zero), tidak bisa dihitung, atau karena hal lain dibalik proses software-nya. Kekurangan yang lain, software ini hanya untuk file-file dengan ekstensi MP3 saja, sehingga untuk format lain seperti ogg misalnya, harus dikonversi menjadi bentuk MP3 terlebih dahulu.
Untuk mengukur tempo lagu yang dinyatakan dalam satuan beat per minute (bpm), saat ini telah ada beberapa software yang bisa kita jadikan alat bantu. Diantaranya adalah BPM Analyser, BPM Detector dst. Sebagian ada yang versi proprietary(dijual resmi) dan ada pula yang benar-benar gratis (freeware). Bagi saya, yang pecinta open source dan suka barang gratis, saya gunakan BPM Detector dari PistonSoft(http://www.pistonsoft.com). Meski software ini masih berjalan diatas sistem operasi Windows, tapi gratis :).
BPM Detector bisa memainkan langsung dan juga bisa memisah(split), menggabungkan(join), merekam(record), bahkan juga bisa mengkonversi sebuah file MP3. Sayangnya perlu software-sofware tambahan yang dijual oleh pistonsoft secara terpisah(dooohhhh… beli lagi :( )
Kekurangannya untuk beberapa lagu masih belum bisa dihitung dengan tepat, sehingga hasilnya diberi nilai 0 (nol). Saya kurang mengetahui secara pasti sebabnya kenapa bisa seperti itu. Apakah terjadi pembagian nol(devide by zero), tidak bisa dihitung, atau karena hal lain dibalik proses software-nya. Kekurangan yang lain, software ini hanya untuk file-file dengan ekstensi MP3 saja, sehingga untuk format lain seperti ogg misalnya, harus dikonversi menjadi bentuk MP3 terlebih dahulu.
Selasa, Januari 20, 2009
Ernie Ball VS D'Addario, sebuah catatan perpindahan string
Ernie Ball VS D'Addario? pilihan berat yang sempat kualami juga untuk pindahan senar gitar :). Seperti kita ketahui bersama, dua merk itu memang menjadi trade mark-nya musisi-musisi tingkat dunia. Jimmy Page, Vai, Clapton, Kirk Hammet hanyalah sebagian dari pengguna Ernie Ball, sementara D'Addario dipakai oleh Joe Satriani, Jeff Beck, Phil Collen dst.
Produk yang saya pakai disini adalah sesuai dengan yang banyak beredar di pasaran Indonesia. Sebenarnya saya sendiri juga sudah pernah mencoba berbagai tipe senar dari mulai merk Pyramid, Fuji, Fender, Ernie Ball dan D'Addario, memang variatif dari berbagai sisi, ada yang murah, mahal, awet, mudah putus, ada yang cepat karatan dst.
Untuk Ernie Ball saya pakai yang Hybrid Slinky P02222 dengan ukuran senar .9(E), .11(B), .16(G), .26(D), .36(A), .46(E), sedangkan D'Addario saya pakai EXL120 Super Light 9-42 dengan ukuran senar .009(E), .011(B), .016(G), .024(D), .032(A), .042(E).
Harga:
Ernie Ball: kisaran 50rb
D'Addario: kisaran 60rb
Kualitas Pemakaian: ini memang ada kaitannya dengan cara kita merawat juga, tapi pada dasarnya saya sudah berusaha maksimal.
Ernie Ball: cepat karatan/korosi
D'Addario: lebih tahan lama
Nada/Tone:
Ini yang terpenting sebenarnya, untuk kualitas tone memang bersaing ketat, saya sendiri mencoba mentest dengan berbagai lagu, satu diantaranya adalah intro Just Take My Heart-nya Mr. BIG(recorded version). Karena Paul memainkan intronya pake Ernie Ball ya, ketika tak coba emang jernih Ernie Ball. Tapi, ketika coba-coba bending, DAddario masih clear ketika bending di fret 23 atau 24 sekalipun, enak banget, ga terasa sangat berat.
Dari berbagai pertimbangan itu, memang masalah tone yang bersaing ketat. Saya sendiri juga berat memutuskan ini, tapi saya pilih D'Addario dengan alasan lebih awet aja.
Langgan:
Entri (Atom)